Showing posts with label novel. Show all posts
Showing posts with label novel. Show all posts

Friday, 2 June 2017

Killer Cats


Mungkin 13 Reasons Why gue salah satunya adalah kedua kucing itu. Demi apapun, rumah gue udah gak seperti dulu lagi ketika masih ada Bapak. Semuanya sudah berubah, mereka yang pegang kendali. Mereka, kedua kucing kakak beradik itu. Entah sejak kapan gue jadi benci ketika melihat kucing itu. Mungkin sejak salah satu dari mereka poop diatas kaki gue ketika tidur? tidak juga. Atau ketika mereka mengganggu makanan-makanan gue di atas meja? maybe. Tapi yang pasti, gue yang dulu pecinta kucing sudah hilang. Diganti dengan gue yang selalu histeris bila berada di dekat kucing. Gue bingung dengan perubahan drastis ini dan gak pernah ada maksud buat mengeluarkan kucing dari daftar hewan kesukaan gue. Gak pernah gue niat sekalipun, cuma kalau dipicu tiap hari rasa benci itu jadi muncul sendiri tanpa permisi.

Mereka kucing pembunuh! kucing yang seharusnya jadi hewan paling disayang seantero dunia harusnya tidak menyebabkan bencana besar seperti ini! Mereka harusnya duduk di sofa leyeh-leyeh bukannya berlarian kesana kemari, memecahkan segala yang ada di rumah itu dan bikin kegaduhan! Mereka kucing pembunuh, mungkin saja mereka memang hadir berkonspirasi menuntut balas akan ibu mereka yang terpaksa dibuang karena memiliki penyakit yang mematikan. Total revenge.
Lalu misi mereka sebenarnya mungkin... total revenge!

When I like you it's total revenge
I want to but I can pretend
That I don't need to be
By your side again

Wrap me up in a plastic case
Pat me down with your warm embrace
I wanna know where you lay your face at night
For all these years

You're a problem that I can't abide
I could sleep well if only I tried
But I stay up and dream of a bride to be
Oh me, oh my

Give it up, I can't wait no more
I am stuck on your bedroom floor
With the thought that I may not be
As great as those that came before

There's a man assigned to me
And he checks on my stability
We discuss you every week
Then I rinse and rinse, repeat

But maybe, I can show you, baby
Maybe, I can relax for good
Whoa, baby, I can show you
Maybe, baby

There's a man assigned to me
And he checks on my stability
We discuss you every week
Then I rinse and rinse, repeat

And he charges by the tear
Till I weep no more strictly out of fear
That I can't afford your love
And the moon just burns above, okay

Penulis lagu: Max Bemis
Lirik Total Revenge © Sony/ATV Music Publishing LLC
Artis: Say Anything
Album: ...Is a Real Boy
Dirilis: 2004
Genre: Punk

Source: google.com 
Share:

Wednesday, 24 May 2017

Ms Coffee & Ms. Tea


I'm Ms. Coffee & Ms. Tea. I love both coffee and Tea. The most important things for me to start the day or maybe call it a day. I don't really drink water though, I know that's unhealthy but seriously, you can't get away from those magical drinks.

As for coffee, there are numerous types of coffee around the world and how they're made. I don't really careabout the type or where it comes from as long as the coffee meet my expectation. I don't like sugar on my coffee but sometimes I add some brown sugar in it. It goes the same for tea. I realized that adding some sugar into tea or coffee may ruin the original taste of it. So, I decided to put sugar away from my coffee or tea. You can eat some chocolate or cookies instead to avoid the bitterness of coffee and tea. Or maybe you just love it that way.

When you are tea & coffee lovers you will know immediately of what kind of thing you will buy or attact you instantly. Like everything with tea or coffee in it, like book, accessories or anything.

Who are you then? Ms. Tea or Ms. Coffee? or both?
Share:

Monday, 17 April 2017

The things between Willem and Lulu



The best thing about finding your "so-you" novel is you will finish it right away! No matter what and no one cannot stop you. That's what I felt when the first I read the right novel that I choosed by myself, not the one that someone recommended me. I will always remember every part of it, especially the dialoges, I can imagine the places well, every inches of the novel.

I just finished reading the trilogy(?) novel from Gayle Forman an author from US which...to be continue
Share:

Friday, 13 January 2017

Pardon My Obsession

Gue mau cerita tentang betapa dunia fiksi amat mempengaruhi kehidupan nyata gue. Salah satunya fiksi menginspirasi gue untuk menjadi sesuatu, membeli sesuatu, hobby akan sesuatu yang sifatnya temporary atau sementara. Seakan-akan gue pengen menghidupkan fiksi tersebut dan meleburkannya ke dunia nyata. Adakalanya fiksi seakan menarik gue menjauhi dunia nyata itu tersebut, seperti yang beberapa tahun lalu sahabat gue pernah bilang ke gue kalau hidup gue itu ya fiksi. Gue hidup dengan kenyataan bahwa gue mendedikasikan sebagian besar hidup gue bukan di dunia nyata gue melainkan dunia fiksi atau imaginary yang gue ciptakan sendiri.

Semua yang dikatakan temen gue itu ada benernya namun gak semuanya benar. Gue juga selalu berusaha menarik diri gue kembali ke dunia nyata sebelum gue tenggelam lebih jauh ke dunia fiksi dan gak bisa balik lagi. Fiksi menjadikan gue pribadi yang random dan mudah sekali terpengaruh alur cerita yang sedang gue ikuti saat itu. Misalnya, tiba-tiba ketika gue nonton Fullhouse dulu, gue pengen kayak Han Ji Eun yaitu jadi penulis novel atau naskah!!!! Gue pengen punya rumah kayak rumah-rumah yang ada di fiksi, Alice: Boy in Wonderland-nya Jonghyun, lake house ala-ala Ilmare. Gue jadi suka bunga gara-gara gue nonton Goblin dan pengen nanem buckwheat di halaman rumah gue sampe akhirnya gue nyari bibit tanamannya dan cara nanemnya, dan ternyata hasilnya gue gak dapet bibitnya karena udah abis. Gue masih nyari lagi! takutnya juga ga bisa gue tanem gitu aja karena di Indonesia kayaknya hampir ga ada ladang buckwheat deh.

Kalau dalam hal apparel atau fashion gue rada give up! karena udah harganya selangit, kadang brandnya ga dijual bebas di pasaran alias cuma ada di negaranya aja. Kayak sepatu Veja yang dipake Gong Hyo Jin di Jealousy Incarnate.

Well, that's why I sometimes hate myself because I tend to do the stupid things instead, like buying Jansport's bag cost me almost a million.

Hahaha... Do I look like Ji Eun Tak now?
Share:

Tuesday, 5 July 2016

Keburu lupa

Gue mencoba untuk lebih produktif lagi sekarang, gue ga tau kedepannya gue akan jadi apa, yang jelas ini salah satu kebiasaan gue sejak dulu yaitu bikin sinopsis. Well, I like fiction that so obvious. That's why I like a story and I usually make one in my head, right after I watched something or get inspired by something. Usually that stories never go out of my head, I mean I rarely write it. It just my imagination and I like to be a part of my own imagination, and enjoy it myself..

But, today, after shubuh prayer I wrote something from my head.. My synopsis, well, I don't know how to call it but I call it synopsis anyway. And then, here they are:

Tema: Arsitektur, Co-workers lovers

Pemain:

  • Lee Ho Won

  • Jung Nara


Latar tempat:

  • HWN Arc.(office)

  • Prague

  • Seoul


~Storyline~
HW dan NR, memiliki ketertarikan yang sama akan seni bangunan, atau arsitektur. HW senang menggambar designnya yang bergaya modern dan lebih komersial. Sedangkan NR senang memfoto tempat-tempat yang memiliki keindahan atau design arsitektur yang bernilai seni tinggi, dengan kata lain keindahan adalah salah satu hal yang menonjol daru setiap desainnya. Ia, NR fokus ikut berbagai kejuaran arsitektur dan memenangkan beberapa penghargaan dan rela berkeliling dunia hanya untuk melihat berbagai karya arsitektur terbaik, salah satunya adalah kawasan eropa yang menjadi "muse" nya.

Mereka sudah mengenal satu sama lain sejak di bangku sekolah menengah. Tepat lima tahun setelahnya, mereka sama-sama mengambil sekolah arsitektur terbaik di Seoul dan pergi keberbagai penjuru dunia, termasuk Prague. NR sangat menyukai Prague dan ingin sekali suatu saat designya dapat dibuat di kota tersebut. Sedangkan HW lebih fokus pada firm bisnis yang ia sudah rencanakan dari dulu yang akan bekerja sama dengan NR dan rekan lain di dunia kearsitekan. Usia muda, 20, mereka sudah mulai aktif di firm yang tidak terlalu populer saat itu. HW lebih berperan karena NR lebih fokus pada setiap perlombaan arsitekturnya dan memenangkan berbagai penghargaan.

Tanpa disadari atau tidak, mereka telah menjadi sepasang kekasih sekaligus rekan kerja. Karena satu sama lain nyaman akan keberadaan masing-masing dan tau akan peran satu sama lain di kehidupan mereka. Mereka menjalaninya dengan mengalir begitu saja. Sampai suatu ketika, setelah 10 tahun saling mengenal satu sama lain dan 5 tahun berkencan dan bekerja bersama, NR memutuskan untuk pergi ke Prague. Meninggalkan sepucuk surat yang berkata:
 "Aku ada di Prague, jangan kesini. Mungkin aku tak kembali."

Begitu isi pesan surat tersebut.

HW yang sedang fokus dengan proyek besar di firmnya yang merupakan proyek ke tiga dan yang akan menjadi kunci kesuksesannya kelak pun menuruti isi pesan itu. Tak lama kemudian, tepatnya 3 bulan kemudian ia mendapat pesan dari nomer tak dikenal, yang memiliki kode area yang asing yang berkata
" bisakah kau ke Prague? Ia membutuhkanmu lebih dari apapun dan siapapun - Antonin"

Ps: mengenai siapa aku akan kujelaskan jika kau sudah disini.
Ini alamat kami:

Retro Flat Apartment, Zborovská 1026/15, 150 00 Prague-Smíchov, Czech Republic

Melihat nama Prague, lantas HW langsung paham dengan siapa ia bicara dan memutuskan untuk pergi kesana tanpa menghiraukan apapun dan meninggalkan pekerjaannya.

Prague

Ia sudah mengerti situasi di Prague atas penjelasan dari Antonin yang tak lain adalah mantan suami dari NR, ya, tiga bulan yang lalu NR menikah dengan Antonin. Di Prague tanpa memberitahu HW. Namun mereka berpisah setelah 3 bulan, NR tidak keberatan berpisah dari Antonin namun tidak juga berkata apa-apa hanya mengurung diri di flat-nya. Antonin merasa amat cemas dan akhirnya ia menyelidiki sendiri NR lewat HPnya dan ia melihat foto-foto HW dan kontak HW di hp NR lalu menghubungi lelaki itu. Menjelaskan semua dan apa yang terjadi. HW mendengarkan dengan seksama tanpa komplain. Lalu, ia memandang dengan dalam NR yang kala itu sedang tidur.

Setelah 3 jam tidur dibawah shower dengan masih menggenggam suntikan dengan sisa obat tidur didalamnya (yang ia ketahui kemudian). Antonin mengatakan ia tidak bisa mengurus NR lagi, tidak setelah mereka bercerai seminggu yang lalu. Yang telah disepakati keduanya. Antonin berkata ia harus melanjutkan hidupnya, dan NR pun sudah melepaskanya. Namun Antonin khawatir dan ketika ia mengecek beberapa hari yang lalu sebelum kemudian akhirnya ia menghubungi HW karena NR tak kunjung menjawab telponnya untuk mengurus perceraian mereka yang agak sulit di Prague, ia memutuskan untuk mengecek NR dan kejadian serupa seperti hari ini terjadi. Antonin merasa takut ini terjadi lagi maka ia menghubungi siapapun yang ada di kontak HP NR. Tiada siapapun, kecuali HW di hpnya. Lainnya hanya nomer tidak dikenal, nomer international dan lokal.

Setelah memastikan bahwa NR dalam penjagaan HW sekarang maka Antonin pun pergi dan menjelaskan bahwa ada beberapa prosedur perceraian yang harus di selesaikan NR dan kemudian pergi meninggalkan HW dengan setumpuk surat dan keheningan di flat dengan NR yang masih tidak sadarkan diri.

Menunggu NR sadar HW membaca surat-surat tersebut dan mulai mempelajari satu persatu isi suratnya yang kadang membuat alisnya naik karena berbagai macam peraturan disana dan hal yang harus mereka jalani, yep, mereka, karena HW yakin NR tak akan menjalani hal ini sendirian, tidak setelah ia melihatnya hari ini.

HW tidak tahu obat tidur macam apa yang disuntikan NR sehingga ia tidur sampai pagi keesokan harinya.

Ketika HW yang terlelap di sofa dengan kertas-kertas berserakan disekelilingnya bangun, di depannya NR sedang duduk memerhatikannya dari sofa yang lain. NR sama sekali tidak terkejut malah terkesan datar. Entah ia masih dibawah terpengaruh obat tidur atau bagaimana, ia hanya memandang HW dan HW pun gantian menatap NR. Tidak ada yang bicara saat ini bahkan berkedip. Mereka seperti bicara dalam diam, menunggu salah satunya memecahkan kesunyian tersebut.

Ingat akan kertas-kertas diatasnya HW pun buka suara.

Kau sungguh butuh bantuanku saat ini, kertas-kertas ini harus segera kau kembalikan kepada yang membutuhkan - HW

NR tersenyum tak percaya, dan tak berkata apa-apa meninggalkan HW dan pergi mandi. Terdengar suara HW mengakatan dari jauh seperti jangan minum obat tidur sebelum mandi yang membuat senyum NR makin lebar.
HW dan NR selama hampir seminggu mengurus segala dokumen perceraian dan imigrasi di Prague yang sangat sulit dan melelahkan. NR berkomentar "aku tak akan menikah disini untuk yang kedua kali" lalu HW membalas "aku akan membunuhmu jika itu terjadi"
Tanpa menanyakan apa yang sebenarnya terjadi HW melakukan segala hal untuk NR seperti halnya ia wajib melakukan itu. HW tidak berkata apapun maupun bertanya apapun. NR pun tak menceritakan apapun. Walaupun HW memiliki cerita versi Antonin namun seharusnya, sudah sewajarnya ia tahu dari NR tentang apa yang terjadi tiga bulan belakangan. Pertanyaan simpel seperti, "mengapa kau melakukan itu? "Apa yang sebenarnya terjadi?" "siapa itu Antonin dan bagaimana kau mengenal dan memutuskan untuk menikah dengannya?" hal-hal yang seharusnya jadi pertanyaan mendasar HW.
Ia hanya menanyakan hal-hal yang dulu ia sering tanyakan, seperti "apakah kau sudah makan?" hal-hal sepele yang jawabannya ia sudah ketauhi sebelum bertanya.

HW memutuskan untuk tidak bertanya, NR memutuskan untuk tidak bercerita. Keduanya pun kembali ke Korea.

Seoul

"Apa? Apa yang terjadi? Aku tak mungkin salah dalam kalkulasi desainku. Kalian bercanda?"

"Tidak perlu, aku akan kesana. Jangan lakukan apapun sampai aku ada disana, mengerti?!"

NR menutup telpon dalam bahasa Inggris tersebut. Lalu ia mengecek jadwal pesawat tercepat ke Prague. Ya, ia akan ke Prague kalau bisa detik itu juga. Nah, ia mendapatkannya, pesawat berangkat hari itu jam 5, sekarang jam 12 siang, ia punya waktu. Ia pun bergegas dan pergi meninggalkan rumah HW, rumah sekaligus kantor bagi HWN arc.

HW akan membunuhnya kalau tau ia pergi hari itu juga, tapi NR tak peduli, ia butuh pergi kesana. Ia butuh kabur dari sana, sesungguhnya. Ia menggunakan cara lama dengan hanya meninggalkan sepucuk surat, bukan, justru ia meninggalkan pesan di halaman depan kartu undangan berpita merah berwarna putih.
"Aku ke Prague, kau akan mengerti."

HW melihat pesan tersebut ingin rasanya ia mencekik leher wanita tersebut. Wanita itu, NR pergi dan datang di hidupnya sesuka hatinya. Apalagi ini? Prague? Pesan sialan yang wanita itu tinggalkan di kartu undangan tersebut membuatnya geram.

Mendengar kota itu lagi ia jadi ingat kejadian 5 tahun lalu. Tepat persis seperti hari ini. Apalagi kali ini yang akan ia perbuat, pikirnya. Padahal 3 hari lagi hari pernikahannya.

Prague

Ya, escape plan. Ini lah yang ia tunggu-tunggu. Keluar dari Seoul, pikir NR. Berada di Seoul membuatnya gila. Pekerjaan di Prague sebenarnya bisa ia selesaikan di Seoul. Ia hanya butuh alasan, alasan untuk? Menghindar dari HW.

Ia tahu, dalam waktu dekat pernikahan ini akan terjadi. Namun, ia baru sadar, sedekat itu. Yep, tiga hari lagi dan ia sekarang membuat keributan. Ya, NR tau, HW akan menyusulnya kemari, pasti. Dan dugaanya terbukti karena pesawat berikutnya ke Prague telah mendarat bersama HW di dalamnya. Pesan singkat di HPnya berkata,
"Kau gila? Kau benar-benar gila. Aku tak percaya kau meninggalkanku di H-3, tunggu disana aku akan menyeretmu ke Seoul" HW

Pesan ini seperti dikirim seorang penagih hutang kepada yang ditagih. Memang ia salah apa? Pikir NR. Ia berhak melakukan hal apapun dalam hidupnya. . .
Jika dikatakan NR kabur dari HW, kenyataannya salah besar. HW tau persis NR berada dimana, orang kabur tak akan sejelas itu dan segampang itu ditemukan. Beda seperti 5 tahun lalu, kali ini HW terlihat marah besar. Ia murka. NR dapat melihat itu diwajahnya, NR pun memalingkan wajahnya ke arah lain, kemanapun asal matanya tak bertemu mata HW. Mata itu menyala bagai api. Mata yang biasanya selalu teduh dan menenangkan, sekarang penuh amarah dan kebencian, serta kesedihan dan kekecewaan yang berusaha ditutupi dengan api kemarahan.
Kata pertama yang keluar dari mulut HW adalah "kau wanita jahat". NR hanya tersenyum sinis dan membalas dengan kata "bagaimana penerbanganmu, kau terlihat masih jet-.." HW "APA YANG KAU MAU?" "kau tau? 3 hari lagi adalah hari yang penting. Apa kau pikir aku main-main? Aku mengenalmu lebih dari 15 tahun dan kau tahu itu melelahkan! Kau terus pergi kesana dan kemari sesuka hatimu, kau pikir hanya kau disini yang memiliki kehidupan? Aku juga punya dan dalam tiga hari kedepan aku akan menjalani kehidupan baruku. Kau masih ingin merusaknya? Seperti 5 tahun lalu? Ketika kau mendadak pergi meninggalkanku, tiga bulan kemudian kau menghubungiku, oh bukan kau, siapa itu? Anders? Ya, kau masuk kembali kehidupku sampai sekarang lima tahun kemudian dan masih saja kau seperti ini. Seenaknya memutarbalikan hatiku. Apakah kau pernah peduli padaku barang sedetik saja? Pernah terlintas di otakmu?"

"Anggap saja tidak. Kembalilah ke Korea, calon istrimu nanti khawatir"- NR

"Apa? Ya! Hanya itu yang bisa kau katakan? Membuatku terbang jauh-" HW

"Aku tak memintamu! Kau datang sendiri, demi tuhan!~" NR

"Kau bodoh jika berpikir aku tidak akan datang dengan meninggalkan pesan sialan itu! Kau tau aku akan datang. Dan itu cara memintaku untuk datang kepadamu. Kau paling tau, demi tuhan, aku sudah mengenalmu seumur hidupku." HW

"Jika kau menganggapnya seperti itu, berarti kau sama sekali tak mengenalku selama ini. Kau tak pernah mengerti diriku, kau hanya berpura-pura mengerti. Kembalilah ke Korea, aku tak mau merusak hari pernikahan orang lain, apalagi orang yang sudah mengenalku selama 15 tahun" NR

"..."

"Kau tau, mengenalmu lebih sulit daripada mencintaimu, selama ini aku merasa mencintai wanita yang berbeda walau dalam satu raga. " HW

"Makanya, kau tak pernah benar-benar mencintaiku karena kau tidak benar-benar mengenalku" NR

"..."

"Lalu bagaimana dengan dirimu sendiri?" HW

"Hhh.. Mendengar kau menanyakan ini, aku merasa seperti orang idiot. Kau bahkan tak pernah merasakannya. Kau merasa harus bertanya?" NR

"Ha ha ha, ya, aku akui, semua ini merupakan caraku membalasmu 5 tahun lalu, agar kau merasakan apa yang aku rasakan dulu. Lalu kenapa hatiku ikut merasakan sakit seperti waktu itu? Harusnya kau yang merasakan ini semua. Pernikahan ini semua aku rancang untukmu, maksudku untuk membalasmu 5 tahun lalu. Kenapa balas dendam begitu menyakitkan? Ini rasanya seperti aku merasakan sakitnya 5 tahun lalu sekali lagi, ketika kau tiba-tiba menghilang dan 3 bulan kemudian aku menemukanmu membeku di kamar mandi. Kau tak pernah tau, sakitnya hatiku saat itu. Namun, hari ini seharusnya kau yang sepertu itu. Kenapa aku masih merasakan sakit ini? Kenapa? Apa salahku? Kenapa bisa sesakit ini? Mencintaimu... Selama lima tahun ini, aku memikirkan bagaimana cara aku membalas rasa sakit ini? 5 tahun aku menahan ini semua, aku pikir 5 tahun ini aku memalsukan cintaku padamu. Ternyata? Aku tak tahu. Seharusnya aku tak pernah ke Prague lima tahun lalu. Mungkin tak akan sesakit ini jadinya. " HW

"..."

To be continue?
Share:

Wednesday, 20 January 2016

Movie Review

Movie a.k.a film udah jadi bagian dari hidup gue, mungkin hidup sebagian besar orang di dunia ini. Jujur kacang ijo, bukan jujur aja, buat gue, movie atau hal fiksi sejenis seperti novel buat gue semacam sebuah pelarian dari kehidupan nyata, dan ini pernah diungkapkan sama dua temen baik gue, kalo gue itu terlalu hidup di dunia fiksi. Dunia yang nyatanya menurut gue lebih nyata ketimbang dunia gue sendiri.

Kok jadi bahas tentang gue gini ya? orang mau movie review. Yowes, back on track. Kembali ke playlist. Gue lupa udah berapa banyak film yang gue tonton, gue disini gak bakal nyebutin satu-satu, cuma yang berkesan aja buat gue, yang meninggalkan impressi yang dalam. Langsung aja, check this out:



Ada banyak lagi, beneran! cuma gue lupa. nanti update lagi deh!


Note: This is ridiculous! harusnya ada slide foto disini gue lupa blog ini gue import dari wordpress jadi fotonya ga ke import deh. Buat postingannya bisa langsung cek disini
Share:

Tuesday, 8 December 2015

Wedding Fair (last chapter)

Grey
Grey Aria Lestari. Perpaduan wanita Jawa dan Manado-Inggris. Itu sebabnya ketika diriku lahir, kedua orang tuaku memberiku nama Grey, abu-abu. Ibuku Jawa tulen dengan kulit kecoklatan dan tipikal wanita Jawa yang anggun karena masih keturunan bangsawan keraton Solo katanya.
Ayahku kebalikannya, Tinggi berkulit putih dan memiliki postur tubuh orang luar negeri dan sedikit kaku tipikal orang Manado walaupun darah blasteran Inggrisnya hanya ia ambil sedikit dari kakekku.
Dengan latar belakang keluarga yang unik tersebut lahirlah aku, si abu-abu. Ya, ketika aku lahir ke dunia, kata mereka, kedua orang tuaku, diriku seperti berkulit abu-abu. Atau kalo istilahnya sebenarnya eksotis. Jadi mereka menamakanku Grey. Terlepas dari hidupku sekarang yang memang abu-abu. Itulah alasan orang tuaku menamakanku demikian. Namun, seiring waktu berjalan, penyakitku dan segala macam, kulit abu-abu eksotisku berubah menjadi pucat hari demi hari.
Note: Pengen banget bisa nyelesain ini cerita, cuma gue udah gatau lagi mau gimana. Endingnya cuma ada di pikiran gue doang, gak bisa gue keluarin. Biarlah, biar menjadi bagian dari cerita-cerita lain yang gue ciptakan di otak gue. Dibuang sayang jadi di publish ada apanya aja.
Share:

Saturday, 13 December 2014

The Hunger Games (Spoiler Alerts)

I am trapped into a game called "The Hunger Games"

Yep. Novel yang telah lama rilis dan berjajar di toko buku yang biasanya cuma saya liat sejenak lalu beralih ke novel lain sekarang malah jadi novel kesukaan saya.
Awalnya saya gak begitu tertarik dengan novel hunger game yang menurut saya mostly ceritanya pasti tentang pembunuhan sadis manusia. I hate it. That kind of murderer novel. Saya ga begitu suka novel yang ceritanya terlalu serius. Ternyata, not that serious.

Hunger Games menyajikan pula sebuah drama manis, kisah cinta segitiga, di antara peperangan, game kematian, kelaparan yang disuguhkan manis tanpa dilebih-lebihkan yang kesannya lebih ke kenyataan. Kenyataan bahwa sesungguhnya semua yang kita kira hanya akting belaka belum tentu demikian. Cinta itu sederhana. Sesederhana sebuah pertemuan pertama Katniss dan Peeta yang jadi awal memori mereka yang tanpa disadari menjadi awal mungkin kisah cinta mereka.

Katniss Everdeen dan Peeta Mellark, oh kisah cinta kalian merupakan yang saya biasanya cari dari sebuah fiksi atau romance. Saya sangat menikmati perkembangannya. Membuat saya gila. Sungguh. Saya paling benci menunggu satu tahun untuk sebuah jawaban yang sudah saya yakini tapi hanya butuh sebuah bukti. Ya, karena tak sabar menunggu The Mockingjay Part. 2 tahun 2015, saya putuskan untuk.... Baca ebooknya. Ya, english version. Hmm.. Yummy.



Share:

Wednesday, 12 November 2014

Bacaaaaaaa!!

Gue pernah denger cerita antara orang Indonesia sama orang luar mengenai hobi. Ketika orang Indonesia bilang hobi mereka membaca, si orang luar (luar negeri ya bukan luar angkasa) ketawa. Dalam budaya mereka, membaca bukanlah sebuah hobi melainkan sudah menjadi sebuah kebiasaan. Membaca yang dijadikan orang Indonesia sebuah hobi dipandang mereka aneh, karena membaca bagi mereka lebih dekat kepada keharusan dan kebiasaan. Kalo hobi itu kesannya kayak membaca itu kegiatan khusus sedangkan kalo orang luar tidak memandang demikian tentang membaca.

So, membaca itu udah mainstream? lol semacam itulah.

Kita suka mendewakan orang yang suka membaca, padahal membaca bukanlah suatu hal yang hanya dilakukan orang yang suka saja, melainkan hal yang seharusnya memang kita lakukan dan kita jadikan kebiasaan. Nah, dengan intro yang begitu pandjang disini gue cuma mau curhat (lagi) mengenai minat baca gue yang udah mulai menurun beiringan dengan minat nulis gue. Karena menurut gue baca dan nulis punya hubungan erat. Ketika gue suka nulis itu berarti gue lagi demen baca. Ya, gue orang Indonesia yang menjadikan baca sebuah hobi. Karena jujur, gue bisa baca kalo gue punya mood. Berarti gue belom termasuk kriteria orang luar negeri karena menjadikan membaca sebuah kegiatan yang sakral. Ya, membaca bagi gue sama dengan nonton film. Peristiwa yang sakral. Keduanya berlangsung ketika gue punya MOOD.

Share:

Monday, 19 May 2014

Wedding Fair

Lona

Rakadya Wilona. Aku tak mengerti dengan laki-laki. Mereka makhluk yang sulit. Seperti suamiku ini. Dulu setengah mati ia mengejar cintaku. Bahkan mengajakku untuk kawin muda.
Namun sekarang setelah kami menikah. Entah mengapa rasanya ada sesuatu yang hilang darinya. Sesuatu seperti apa ya, gairah hidup? Semangat? Mungkin ia bisa menutupinya dari semua orang. Semua orang yang menghadiri pernikahan kami yang terencana dan terorganisir dengan baik. Semua kerabat bahkan keluarga kami. Tapi bagiku, yang sudah tau dengan sifat dan wataknya. Aku merasa ia hanya sedang menjalankan tugas saja. Tugas menjadi suami. Bukan dari hati. Seperti memang kewajiban saja. Bukan panggilan hati.
Ia dulu bilang sudah mengenalku seumur hidupnya. Tapi apa? Bahkan kemarin ia hampir lupa ulang tahun pernikahan kami kalau bukan berbarengan dengan hari valentine. Ya, kami menikah sudah hampir 5 tahun yang lalu tepatnya di hari valentine. Itu juga pilihannya. Hampir semua ia yang mengatur. Katanya aku cuma cukup jadi cantik saja. Gombal.
Namun, sebenarnya aku agak ragu padanya. Jujur, walaupun kami kenal sejak kecil. Aku terkadang seperti tidak mengenalnya. Ia seperti jauh dari jangkauanku. Ia pemimpi dan perencana yang baik. Namun entah mengapa, aku masih meragukannya. Ya, selama ini aku masih juga meragukannya. Malah dari dulu. Ia sempat sampai beberapa kali menyatakan cintanya kepadaku namun tidak pernah kuterima sampai akhirnya aku menyerah dan menerimanya. Ketika aku yakin, walau sedikit ragu masih menyelimuti hatiku kepadanya.
Keraguanku bukannya tanpa alasan. Alasan klasik sih sebetulnya dan hanya ketakutanku semata. Yaitu, aku takut ia bosan. Ia bosan terhadapku. Suatu saat nanti. Bagaimana tidak. Kami sudah bersama bahkan dari kami masih ngompol di celana. Ia, setauku tak pernah dekat dengan cewek lain bahkan dengan orang lain setauku. Hanya sebatasnya saja. Ia selalu menempel padaku. Semasa kecil hingga remaja. Itulah, itu hal yang paling aku takutkan. Ia bosan. Makanya, ketika ia melamarku. Rasa takutku makin menjadi. Aku takut pernikahan kami cuma seumur jagung. Aku takut ia bosan. Ia lelah bersamaku. Itulah mengapa. Aku biarkan ia berpikir.

Share:

Saturday, 17 May 2014

Lanjutan Kemarin (Wedding Fair)

Loh, makin aneh-aneh aja nih judul postingan gue. Abis kalo gue tulis "Iseng-iseng bikin sinopsis Part 2 Bag. 2" kepanjangan. Jadi ya singkatnya ini saja, kalo mau liat postingan saya yang kemarin silahkan monggo klik disini.

Lanjutannya..

Setting : disebuah hotel di kawasan Jakarta bernama hotel X (nama hotel tba)

Grey. (setelah melalui perundingan yang sulit dan melilit akhirnya saya putuskan ini nama tokoh wanitanya)

Grey, abu-abu, kelabu, kelam, warna yang tak jelas. Seperti diriku,. sejak dulu, aku bukan orang yang optimis. Aku hanya mengikuti arus, aku hanya seperti air yang mengalir dari hulu ke hilir. Aku tak pernah mempunyai visi ke depan, mimpi, cita-cita, bahkan resolusi. Karena semua itu menurutku adalah hal yang sangat berlebihan untukku, ya, berlebihan.
Aku tak boleh berharap lebih, meminta lebih, karena harapan, impian, dan resolusi tersebut toh akan dipatahkan juga, makanya, aku tak pernah mau berharap akan apapun yang ada diluar jangkauanku.
Bukannya menyerah, tapi aku hanya capek. Capek dengan semua angan-angan itu. Capek tinggal disebuah ruang putih dengan bau obat diseluruh jangkauan indra penciumanmu. Capek dengan ketidakjelasan masa depanku. Aku abu-abu.

Biru.

Aku lelaki yang kata orang kuno. YA, sebenernya yang bilang itu adalah mantanku. Mantan calon istriku. WHAT? istri? ya. Diumurku yang 20 tahun ini cita-citaku adalah menikah. Ya, aku merasa hal itu hal yang paling benar yang bisa aku lakukan. Walaupun usiaku, usia kami masih muda. Aku yakin kami bisa menjalaninya, itu pikirku.
Sampai ia, orang yang kucintai seumur hidupku. Orang yang sudah mengisi sebagian besar hariku. Orang yang padanya akan kusematkan cincin di jari manis kecilnya. Orang yang sudah kukenal seumur hidupku menyatakan ia belum cukup mengenalku seumur hidupnya.

Share:

Thursday, 15 May 2014

AL[L]ONE (unspoken love) - Pesawat Kertas

Pesawat Kertas    image

Sore itu, ketika aku sedang menatap keluar dari balkon apartemenku, tiba-tiba pesawat kertas terbang dan mendarat di dan jatuh ke lantai tepat disebelahku, penasaran akupun mengambilnya dan aku melihat ada tulisan disalah satu sayapnya. Sambil bertanya-tanya darimanakah gerangan pesawat ini terbang? Dan siapakah yang menerbangkannya dan menuliskan pesan itu disayap kiri persawat tersebut. Tulisan di pesawat kertas itu berbunyi "Moshi-moshi, sora ga kirei desuka?" Sontak akupun langsung mencari seseorang yang mungkin mengirimkan pesawat kertas itu dan melihat tak ada siapapun, kecuali pintu balkon yang terbuka milik kamar apartemen tepat diseberang apartemenku. Namun, tak ada siapapun disitu. "Apakah ia bersembunyi?" Pikirku.

Tetapi tak ada gerak-gerik atau tanda kehidupan dari apartemen seberang. Hanya terlihat gorden berwarna krem yang melambai-lambai tertiup angin.

Akupun bergegas memberikan balasan untuk pesan di pesawat kertas itu.
Begini, "Hai!". Hanya kata itu yang aku tulis, aku bingung mau menjawab apa, lalu aku menambahkan "Nande? Dareka?"
'Eeh, iie. Chotto' kataku kepada diri sendiri. Akupun menghapus kembali kata 'dareka?' Karena aku ragu. Lalu aku terbangkan lagi pesawat itu. Dan, Ah! Kenapa tidak bisa jatuh ke tempat yang benar? Keluhku. Pesawat kertas itu malah terbang entah kemana. Walaupun aku tidak yakin bahwa apartemen seberanglah yang mengirimkan pesawat kertas itu namun aku tetap menerbangkannya (em, bermaksud menerbangkannya) kesitu. Walaupun tidak berhasil sampai kesitu, membuatku penasaran.

Tapi pikirku lagi, mungkin saja dia, orang dari apartemen seberang yang mengirimkannya. Meski begitu hatiku tetap saja kecewa.
'Yah, sudahlah' kataku terhadap diriku sendiri.

---

*Tingtong-tingtong
Bel apartemenku pun berbunyi, pertanda Nachan (Nagisa Miura, Okaa-san) pulang. Akupun berlari tergesa-gesa dan melupakan insiden kecil itu, yang nantinya menjadi awal dari takdirku.
Pintu terbuka dan aku langsung menghambur kepelukan Nachan, "Nachan, Nachan! Okaeiri!" Seruku
"Tadaima, Risa-chan!" Jawab Nachan lembut.

Share:

AL[L]ONE (unspoken love) Prolog

Senja di kota Tokyo, matahari sore di musim panas mulai meredup menyisakan kehangatan dan berkas-berkas cahya indah dari arah barat. Menyinari bangunan-bangunan padat menjulang tinggi yang seakan berlomba untuk mendapat sinarnya, mencapai langit.
Tak luput oleh jangkauan sang matahari, sebuah balkon apartemen terbuka menyambut sisa-sisa kehangatan nan indah dan menyinari sampai ke bagian dalam apartemen tua nan monoton.
Terlihat seorang anak perempuan melipat kedua tangannya diatas teralis besi balkon yang berhiaskan tanaman rambat dan pot pohon kaktus dengan berbagai macam bentuk yang sepertinya disiram hanya sebulan sekali.
Ia sedikit berjinjit dan menumpukan dagu kecilnya itu sambil menatap kosong ke arah langit sore, merasakan kehangatan sinar matahari yang merasuki tubuhnya, terdiam mengabaikan sekelilingnya. Dalam balutan baju terusan lengan pendek selutut berwarna putih gading dan rambut hitam panjang yang lurus khas orang Jepang yang ia biarkan terurai namun tertata rapi walaupun hembusan angin menerpa wajah mungil dan poni rata yang mengganggu penglihatan mata kecilnya.
Arisa Miura
sudah hampir setahun ia selalu melakukan hal yang sama setiap harinya, yaitu berdiri di balkon apartemennya sambil menatap langit sore, menunggu kepulangan ibunya. Setelah ayah yang dicintainya pergi meninggalkannya akibat kecelakaan kerja.

Share:

Tuesday, 8 April 2014

Iseng-iseng bikin sinopsis Part 2


Entah mengapa gue suka ngejudulin pake part-part-an kayak cinta fitri aja. Baiklah langsung saja saya mau nulis sinopsis yang saya pikirkan dikepala, nanti keburu lupa lagi, here we go!

Referensi Judul : Wedding Fair

Cowok : Pernikahan batal, punya mimpi kawin muda sama ceweknya yang udah dia pacarin dari sejak SMP (sahabeut masa kecil ceritanya)

Sejak pernikahan yang udah dia rencanakan dengan sematang-matangnya batal karena secara gak langsung cewek yang selama ini ia pacari menolaknya ketika menyatakan proposal pernikahannya, dia jadi sering pergi ke pameran-pameran pernikahan atau wedding fair, sendirian. Sampai suatu ketika, takdir mempertemukannya dengan seorang wanita, wanita yang tak ia sangka 'akan' memiliki peran berarti untuk hidupnya kelak

Quote : Aku udah ngerasa mengenal dia seumur hidupku, namun ia belum merasa mengenalku seumur hidupnya.

Cewek : Tidak punya waktu banyak untuk memikirkan tentang pernikahan, karena penyakit yang ia derita, jadi ia suka datang ke Wedding Fair.

Pernikahan? untuk memikirkan hal itu saja, rasanya jadwal kemotherapyku terlalu padat untuk hanya memikirkan hal itu. Namun, untuk wedding fair? setidaknya aku bisa kabur sejenak dari Rumah Sakit yang baunya sudah sama dengan baju yang kukenakan ini hanya untuk pergi menghadirinya. Umurku sekarang sudah 20 tahun, bonus 4 tahun sejak dokter memvonis keberadaanku di dunia hanya sampai di angka 16, 4 tahun lalu, Namun dengan bonus tersebut, mengharapkan pernikahan rasanya hal yang sangat muluk sekali bagiku, yang sehari-harinya makan-tidur dirumah sakit. Kalau aku menikah, mau makan apa suamiku? masa makanan hambar yang aku makan? jangankan untuk memikirkan pernikahan, memikirkan tentang hari esok apakah aku masih berada di dunia ini atau tidak rasanya 'berlebihan' untukku. Sampai suatu ketika, kata-kata seandainya, bayang-bayang pernikahan, hadir di benakku, ketika kami berfoto bersama, ya 'kami'. Aku dan lelaki pertama dan terakhir yang membuatku untuk pertama kali dan terakhir kalinya memikirkan tentang 'pernikahan'.

to be continued...
Theme Song : Somewhere Only We Know (Lily Allen version)
Share: