Showing posts with label allone. Show all posts
Showing posts with label allone. Show all posts

Thursday, 15 May 2014

AL[L]ONE (unspoken love) - Pesawat Kertas

Pesawat Kertas    image

Sore itu, ketika aku sedang menatap keluar dari balkon apartemenku, tiba-tiba pesawat kertas terbang dan mendarat di dan jatuh ke lantai tepat disebelahku, penasaran akupun mengambilnya dan aku melihat ada tulisan disalah satu sayapnya. Sambil bertanya-tanya darimanakah gerangan pesawat ini terbang? Dan siapakah yang menerbangkannya dan menuliskan pesan itu disayap kiri persawat tersebut. Tulisan di pesawat kertas itu berbunyi "Moshi-moshi, sora ga kirei desuka?" Sontak akupun langsung mencari seseorang yang mungkin mengirimkan pesawat kertas itu dan melihat tak ada siapapun, kecuali pintu balkon yang terbuka milik kamar apartemen tepat diseberang apartemenku. Namun, tak ada siapapun disitu. "Apakah ia bersembunyi?" Pikirku.

Tetapi tak ada gerak-gerik atau tanda kehidupan dari apartemen seberang. Hanya terlihat gorden berwarna krem yang melambai-lambai tertiup angin.

Akupun bergegas memberikan balasan untuk pesan di pesawat kertas itu.
Begini, "Hai!". Hanya kata itu yang aku tulis, aku bingung mau menjawab apa, lalu aku menambahkan "Nande? Dareka?"
'Eeh, iie. Chotto' kataku kepada diri sendiri. Akupun menghapus kembali kata 'dareka?' Karena aku ragu. Lalu aku terbangkan lagi pesawat itu. Dan, Ah! Kenapa tidak bisa jatuh ke tempat yang benar? Keluhku. Pesawat kertas itu malah terbang entah kemana. Walaupun aku tidak yakin bahwa apartemen seberanglah yang mengirimkan pesawat kertas itu namun aku tetap menerbangkannya (em, bermaksud menerbangkannya) kesitu. Walaupun tidak berhasil sampai kesitu, membuatku penasaran.

Tapi pikirku lagi, mungkin saja dia, orang dari apartemen seberang yang mengirimkannya. Meski begitu hatiku tetap saja kecewa.
'Yah, sudahlah' kataku terhadap diriku sendiri.

---

*Tingtong-tingtong
Bel apartemenku pun berbunyi, pertanda Nachan (Nagisa Miura, Okaa-san) pulang. Akupun berlari tergesa-gesa dan melupakan insiden kecil itu, yang nantinya menjadi awal dari takdirku.
Pintu terbuka dan aku langsung menghambur kepelukan Nachan, "Nachan, Nachan! Okaeiri!" Seruku
"Tadaima, Risa-chan!" Jawab Nachan lembut.

Share:

AL[L]ONE (unspoken love) Prolog

Senja di kota Tokyo, matahari sore di musim panas mulai meredup menyisakan kehangatan dan berkas-berkas cahya indah dari arah barat. Menyinari bangunan-bangunan padat menjulang tinggi yang seakan berlomba untuk mendapat sinarnya, mencapai langit.
Tak luput oleh jangkauan sang matahari, sebuah balkon apartemen terbuka menyambut sisa-sisa kehangatan nan indah dan menyinari sampai ke bagian dalam apartemen tua nan monoton.
Terlihat seorang anak perempuan melipat kedua tangannya diatas teralis besi balkon yang berhiaskan tanaman rambat dan pot pohon kaktus dengan berbagai macam bentuk yang sepertinya disiram hanya sebulan sekali.
Ia sedikit berjinjit dan menumpukan dagu kecilnya itu sambil menatap kosong ke arah langit sore, merasakan kehangatan sinar matahari yang merasuki tubuhnya, terdiam mengabaikan sekelilingnya. Dalam balutan baju terusan lengan pendek selutut berwarna putih gading dan rambut hitam panjang yang lurus khas orang Jepang yang ia biarkan terurai namun tertata rapi walaupun hembusan angin menerpa wajah mungil dan poni rata yang mengganggu penglihatan mata kecilnya.
Arisa Miura
sudah hampir setahun ia selalu melakukan hal yang sama setiap harinya, yaitu berdiri di balkon apartemennya sambil menatap langit sore, menunggu kepulangan ibunya. Setelah ayah yang dicintainya pergi meninggalkannya akibat kecelakaan kerja.

Share: