Showing posts with label fiksi. Show all posts
Showing posts with label fiksi. Show all posts

Friday, 2 June 2017

Killer Cats


Mungkin 13 Reasons Why gue salah satunya adalah kedua kucing itu. Demi apapun, rumah gue udah gak seperti dulu lagi ketika masih ada Bapak. Semuanya sudah berubah, mereka yang pegang kendali. Mereka, kedua kucing kakak beradik itu. Entah sejak kapan gue jadi benci ketika melihat kucing itu. Mungkin sejak salah satu dari mereka poop diatas kaki gue ketika tidur? tidak juga. Atau ketika mereka mengganggu makanan-makanan gue di atas meja? maybe. Tapi yang pasti, gue yang dulu pecinta kucing sudah hilang. Diganti dengan gue yang selalu histeris bila berada di dekat kucing. Gue bingung dengan perubahan drastis ini dan gak pernah ada maksud buat mengeluarkan kucing dari daftar hewan kesukaan gue. Gak pernah gue niat sekalipun, cuma kalau dipicu tiap hari rasa benci itu jadi muncul sendiri tanpa permisi.

Mereka kucing pembunuh! kucing yang seharusnya jadi hewan paling disayang seantero dunia harusnya tidak menyebabkan bencana besar seperti ini! Mereka harusnya duduk di sofa leyeh-leyeh bukannya berlarian kesana kemari, memecahkan segala yang ada di rumah itu dan bikin kegaduhan! Mereka kucing pembunuh, mungkin saja mereka memang hadir berkonspirasi menuntut balas akan ibu mereka yang terpaksa dibuang karena memiliki penyakit yang mematikan. Total revenge.
Lalu misi mereka sebenarnya mungkin... total revenge!

When I like you it's total revenge
I want to but I can pretend
That I don't need to be
By your side again

Wrap me up in a plastic case
Pat me down with your warm embrace
I wanna know where you lay your face at night
For all these years

You're a problem that I can't abide
I could sleep well if only I tried
But I stay up and dream of a bride to be
Oh me, oh my

Give it up, I can't wait no more
I am stuck on your bedroom floor
With the thought that I may not be
As great as those that came before

There's a man assigned to me
And he checks on my stability
We discuss you every week
Then I rinse and rinse, repeat

But maybe, I can show you, baby
Maybe, I can relax for good
Whoa, baby, I can show you
Maybe, baby

There's a man assigned to me
And he checks on my stability
We discuss you every week
Then I rinse and rinse, repeat

And he charges by the tear
Till I weep no more strictly out of fear
That I can't afford your love
And the moon just burns above, okay

Penulis lagu: Max Bemis
Lirik Total Revenge © Sony/ATV Music Publishing LLC
Artis: Say Anything
Album: ...Is a Real Boy
Dirilis: 2004
Genre: Punk

Source: google.com 
Share:

Friday, 14 November 2014

Versi Fiksi Saya

Saya hanyalah perempuan biasa, kelewat biasa dibandingkan seluruh perempuan biasa seusia saya di seluruh alam ini. Kisah saya pun biasa, tidak ada yang bisa selalu saya bagikan ke publik setiap saat. Tidak ada yang bisa saya bagikan ke path kecuali daftar lagu yang sedang dan akan saya dengarkan dan juga daftar film yang saya tonton. Sesekali check in pun hanya terbatas di kantor di lantai empat belas gedung di kawasan Rasuna Said ataupun sekedar mampir ke pusat perbelanjaan yang menurut saya gak terlalu menarik juga buat di share tapi tetap saya share. Alih-alih ngisi postingan di jejaring sosial yang kata orang merupakan ajang pamer. Foto? paling saya re-share dari dagelan ataupun hasil colongan dari beberapa grup whatsapp di hp android saya yang belum juga kelar cicilannya karena saya ambil yang 12 bulan. Maklum masih fresh graduate. Dari dua tahun lalu masih juga fresh graduate. Saya memang baru lulus tahun 2012 lalu dari SMK jurusan teknik, keren sih namanya yaitu Teknik Komputer Jaringan atau disingkat TKJ. Saya lulus dari sekolah negeri di kawasan condet yang katanya lumayan favorite karena disitu emang cuma itu saja sekolahan yang "kelihatan".

Share:

Wednesday, 12 November 2014

Bacaaaaaaa!!

Gue pernah denger cerita antara orang Indonesia sama orang luar mengenai hobi. Ketika orang Indonesia bilang hobi mereka membaca, si orang luar (luar negeri ya bukan luar angkasa) ketawa. Dalam budaya mereka, membaca bukanlah sebuah hobi melainkan sudah menjadi sebuah kebiasaan. Membaca yang dijadikan orang Indonesia sebuah hobi dipandang mereka aneh, karena membaca bagi mereka lebih dekat kepada keharusan dan kebiasaan. Kalo hobi itu kesannya kayak membaca itu kegiatan khusus sedangkan kalo orang luar tidak memandang demikian tentang membaca.

So, membaca itu udah mainstream? lol semacam itulah.

Kita suka mendewakan orang yang suka membaca, padahal membaca bukanlah suatu hal yang hanya dilakukan orang yang suka saja, melainkan hal yang seharusnya memang kita lakukan dan kita jadikan kebiasaan. Nah, dengan intro yang begitu pandjang disini gue cuma mau curhat (lagi) mengenai minat baca gue yang udah mulai menurun beiringan dengan minat nulis gue. Karena menurut gue baca dan nulis punya hubungan erat. Ketika gue suka nulis itu berarti gue lagi demen baca. Ya, gue orang Indonesia yang menjadikan baca sebuah hobi. Karena jujur, gue bisa baca kalo gue punya mood. Berarti gue belom termasuk kriteria orang luar negeri karena menjadikan membaca sebuah kegiatan yang sakral. Ya, membaca bagi gue sama dengan nonton film. Peristiwa yang sakral. Keduanya berlangsung ketika gue punya MOOD.

Share:

Saturday, 17 May 2014

Lanjutan Kemarin (Wedding Fair)

Loh, makin aneh-aneh aja nih judul postingan gue. Abis kalo gue tulis "Iseng-iseng bikin sinopsis Part 2 Bag. 2" kepanjangan. Jadi ya singkatnya ini saja, kalo mau liat postingan saya yang kemarin silahkan monggo klik disini.

Lanjutannya..

Setting : disebuah hotel di kawasan Jakarta bernama hotel X (nama hotel tba)

Grey. (setelah melalui perundingan yang sulit dan melilit akhirnya saya putuskan ini nama tokoh wanitanya)

Grey, abu-abu, kelabu, kelam, warna yang tak jelas. Seperti diriku,. sejak dulu, aku bukan orang yang optimis. Aku hanya mengikuti arus, aku hanya seperti air yang mengalir dari hulu ke hilir. Aku tak pernah mempunyai visi ke depan, mimpi, cita-cita, bahkan resolusi. Karena semua itu menurutku adalah hal yang sangat berlebihan untukku, ya, berlebihan.
Aku tak boleh berharap lebih, meminta lebih, karena harapan, impian, dan resolusi tersebut toh akan dipatahkan juga, makanya, aku tak pernah mau berharap akan apapun yang ada diluar jangkauanku.
Bukannya menyerah, tapi aku hanya capek. Capek dengan semua angan-angan itu. Capek tinggal disebuah ruang putih dengan bau obat diseluruh jangkauan indra penciumanmu. Capek dengan ketidakjelasan masa depanku. Aku abu-abu.

Biru.

Aku lelaki yang kata orang kuno. YA, sebenernya yang bilang itu adalah mantanku. Mantan calon istriku. WHAT? istri? ya. Diumurku yang 20 tahun ini cita-citaku adalah menikah. Ya, aku merasa hal itu hal yang paling benar yang bisa aku lakukan. Walaupun usiaku, usia kami masih muda. Aku yakin kami bisa menjalaninya, itu pikirku.
Sampai ia, orang yang kucintai seumur hidupku. Orang yang sudah mengisi sebagian besar hariku. Orang yang padanya akan kusematkan cincin di jari manis kecilnya. Orang yang sudah kukenal seumur hidupku menyatakan ia belum cukup mengenalku seumur hidupnya.

Share:

Thursday, 15 May 2014

AL[L]ONE (unspoken love) - Pesawat Kertas

Pesawat Kertas    image

Sore itu, ketika aku sedang menatap keluar dari balkon apartemenku, tiba-tiba pesawat kertas terbang dan mendarat di dan jatuh ke lantai tepat disebelahku, penasaran akupun mengambilnya dan aku melihat ada tulisan disalah satu sayapnya. Sambil bertanya-tanya darimanakah gerangan pesawat ini terbang? Dan siapakah yang menerbangkannya dan menuliskan pesan itu disayap kiri persawat tersebut. Tulisan di pesawat kertas itu berbunyi "Moshi-moshi, sora ga kirei desuka?" Sontak akupun langsung mencari seseorang yang mungkin mengirimkan pesawat kertas itu dan melihat tak ada siapapun, kecuali pintu balkon yang terbuka milik kamar apartemen tepat diseberang apartemenku. Namun, tak ada siapapun disitu. "Apakah ia bersembunyi?" Pikirku.

Tetapi tak ada gerak-gerik atau tanda kehidupan dari apartemen seberang. Hanya terlihat gorden berwarna krem yang melambai-lambai tertiup angin.

Akupun bergegas memberikan balasan untuk pesan di pesawat kertas itu.
Begini, "Hai!". Hanya kata itu yang aku tulis, aku bingung mau menjawab apa, lalu aku menambahkan "Nande? Dareka?"
'Eeh, iie. Chotto' kataku kepada diri sendiri. Akupun menghapus kembali kata 'dareka?' Karena aku ragu. Lalu aku terbangkan lagi pesawat itu. Dan, Ah! Kenapa tidak bisa jatuh ke tempat yang benar? Keluhku. Pesawat kertas itu malah terbang entah kemana. Walaupun aku tidak yakin bahwa apartemen seberanglah yang mengirimkan pesawat kertas itu namun aku tetap menerbangkannya (em, bermaksud menerbangkannya) kesitu. Walaupun tidak berhasil sampai kesitu, membuatku penasaran.

Tapi pikirku lagi, mungkin saja dia, orang dari apartemen seberang yang mengirimkannya. Meski begitu hatiku tetap saja kecewa.
'Yah, sudahlah' kataku terhadap diriku sendiri.

---

*Tingtong-tingtong
Bel apartemenku pun berbunyi, pertanda Nachan (Nagisa Miura, Okaa-san) pulang. Akupun berlari tergesa-gesa dan melupakan insiden kecil itu, yang nantinya menjadi awal dari takdirku.
Pintu terbuka dan aku langsung menghambur kepelukan Nachan, "Nachan, Nachan! Okaeiri!" Seruku
"Tadaima, Risa-chan!" Jawab Nachan lembut.

Share:

Monday, 14 April 2014

Love Isn’t Like a Chemistry Quiz


It’s my love story..



Kisah cinta yang gue alami ini sudah berjalan 7 tahun, kedengarannya biasa bukan? so many people have the some story with me, with us.

Tapi gue pikir kisah gue yaaa, a little bit different. Gue dan dia, butuh waktu yang begitu lama untuk memutuskan hubungan seperti apa yang kami jalani ini, not yet sih. Belum final keputusan kami. but it’s okay, i get used to.

Sampai sekarang gue dan dia, We never clear it. kami bisa saja disebut teman, sahabat, saudara, guru-murid, ataupun pacar, wait a minute, yang terakhir kami ga bisa menjawabnya. Karena, kami hanya menjalani apa yang kami selalu jalani, kami hanya mengikuti arus, tanpa mencoba mendayung, maupun menepi. Just let it go by the wind.

Now, We gonna make some decision. tentang kita itu sebenarnya apa?

flash back -7 years ago-

Namanya Gael, udah dua tahun gue kenal sama dia, tunggu dulu, maksud gue,  gue tau dia. Kami di sekolah yang sama sejak SMP kelas 3 semester akhir, dia anak baru, pindahan. Now, gue ada dipenghujung kelas 2 SMA, kita, gue dan Gael satu sekolah lagi. Selama 2 tahun itu, gue cuma bisa liat dia, dan tanpa bisa mengatakan apapun. Say “hi” misalnya. Cuma jadi stalker yang curi-curi pandang ke dia.

Then the story begin,


I ask him, suddenly

Udah semester akhir kelas 2, gue masih belum menemukan cara buat seenggaknya ngomong ke dia. Oh Gee, it’s just say “hi”, or something like “what time is it?” not “coud i be your gf?” or “marry me?” just say something, something usual.


Now here i am,

“Sorry, jam berapa ya sekarang?” -krik, krik, krik- (waktu berjalan 1 detik bagaikan 1 jam)

“Lo kan punya jam!” *straight! i think i am dying

“Eh, iya ya?” (saat seperti ini harusnya gue ngeles jam gue mati, dan buang tuh jam jauh-jauh. Kalo ditanya lo ga punya hp? bilang kecebur di got masih di servis, kalo masih ditanya juga langsung ambil tangannya dan liat jamnya :p)

Tapi dengan bodohnya gue langsung liat jam gue dan ber oh oh ria. Dia pun senyum,OMG, gue bisa liat senyum dia dari deket, WAW.

“Kalau di jam gue sih jam 1 kurang 5 menit”

“eh masa sih? oh iya gue lupa, ini kan gue cepetin lima menit soalnya gue takut telat!”

“emang ngaruh?”

“engga sih”

“hahaha…!” (dia ketawa, OMG!!!!)

“wajah lo gak asing, lo anak macan ya?”

“hah? macan? gue mirip macan?”

“bukan, masa alumni gak tau sih, Madya Chandika!”

“ooh, hehe, lupa gue, iya gue alumni situ, lo kan anak baru waktu itu disitu kok bisa tau sih? Setau gue lo masuk pas semester akhir kelas, pas lagi sibuk-sibuknya persiapan ujian dan lo intinya ya cuma punya waktu buat belajar dan…”

-dia menatap gue, dalem dan berkata-

“you know alot about me? but why don’t you speak to me before? It’s just like we were stranger..”

“We were stranger right? until now, I guess”



-I suddenly change the topic-



“so, kenapa ya kita ga pernah sekelas?”

“bukan gak tapi belum”

“iya juga ya? mungkin nanti pas kelas 3, eh gak mungkin deh kan kelas 3 ga pernah di mix!”

“Kemungkinan tuh selalu ada..“


-Pertemuan Kembali-



Ini hari pertama gue di kelas tiga, benar-benar sial, bener kata Gael, nyepetin jam itu gak ngaruh, karena kita tau jam kita udah dicepetin sebelumnya, My God!!

Gue telat dihari pertama kelas tiga, koreksi, hampir telat. Tersisa lima menit buat ke lantai tiga tempat (katanya) kelas gue berada, but i’m not sure.

Setelah liburan panjang kenaikan kelas, yang gue habisin dirumah nenek dikampung mengembala kambing gue lupa semuanya, dan baru nanya kapan masuk itu tadi pagi, plus nanya kelas gue dimana. Tanpa sempet nanya-nanya lagi karena I’m totaly late.

gue pun harus ngos-ngosan naik tangga untuk mencapai kelas gue yang ada di ujung, kelas IPA 9, kelas paling akhir.

Gue pun berjalan, eh setengah berlari, koreksi lari setengah mati di koridor kelas, guru dari kelas IPA 4-6 pun serentak keluar dengan ekspresi “Jangan lari-lari di koridor!!”

Tepat di pintu masuk, gue mati rasa, gue berhenti tepat saat ada badan cowok menghalangi di pintu masuk dan pas gue menoleh keatas, I know,  I’m paralyzed that time. HE WAS GAEL WHO IS STANDING IN FRONT OF ME (gue teriak dari dalem hati terdalam gue)

Gue bergumam, bukan, terbata-bata bilang,

“elo? kok disini?”

“See, It’s my name, and here is yours, We are in the same class in this years, got it?” , dia pun berjalan hendak pergi, namun sebelum pergi dia berbalik “barisan paling kiri dekat jendela ketiga dari belakang kosong” dia pun tersenyum dan pergi.

Gue tanpa pikir panjang dan ga berlama-lama memaksakan tubuh gue kembali seperti semula.

Sesampainya di barisan paling kiri dekat jendela ketiga dari belakang yang kata ‘Gael’ kosong, almost, there is one empty chair, Great!! It must be mine. But, suddenly, when I almost got the happiness, there is someone get in my way, dan itu dia yang dengan gak tau malunya dudukin bangku gue (correct, yang akan jadi milik gue)

Gue dengan tampang “‘it’s mine, and gonna be mine forever and ever” menatap dia dengan senyum paling manis nan menusuk yang gue punya. Setelah adu mulut dan tawar menawar yang sengit, finally, dia pun beranjak dan duduk di kursi paling belakang meng’iya’kan dengan penuh rasa ngeri

Dan gue duduk dengan perasaan menang, VICTORY!^_^V

Oh ya, gue jadi teringat tulisan tadi tulisan nama Gael gue baru tau nama lengkapnya, Gee. Here is :

12. Abigael Resenda

21. Kehira Andromeda

Angkanya itu loh angkanya!! GOD!!

But, i'm still wondering if here is the right chair?

Pertanyaan gue langsung terjawab pas Gael masuk ke kelas dan berjalan ke arah gue dan tersenyum. He’s like a Prince, believe me. Dan dia duduk disamping gue. Kata pertama yang dia ucapin ke gue

“Hai, welcome, stranger!” dan kami pun tertawa


-I Love Chemistry more than … anything except you-



Jam pelajaran kimia, I hate this subject sooo much. Gue udah berkali-kali menguap mungkin ini yang ke 1000 kalinya, but, Gael tetep merhatiin papan tulis dan celotehan guru kimia yang menurut gue ngomong dengan bahasa planet.

“Gue benci pelajaran ini, gak ngerti!”

“Tau ga, kalo ga ada kimia kita mungkin mati, hampir semua benda yang ada di alam ini bersifat kimia loh!”

“Masa sih?”

“Contohnya, lo nafas kan? itu kimia tau! lo nafas kan pake oksigen”

“eh kayaknya gue pernah denger deh, nama ilmiahnya apa ya, emh, Oksigen, O, Co ya?”

“Bukan, just O, biasanya kita memakai awalan suatu zat, misalnya oksigen ya O, Carbon ya C. Gitu.”

“oh gitu ya? nah kayaknya gue pernah denger tuh nama deh, eh itu di papan tulis kan itu tuh yang di tulis pak guru, tapi kok panjang banget ya?”

“itu karena udah di reaksiin, kayaknya lo harus ulang dari awal deh belajarnya nih jadi gini…” (dia tau the best and easy way to teach me chemistry)

dan semenjak saat itu..


Chemistry, i love you and Gael too..

Kalau ada pelajaran kimia Gael dengan serius ngajarin gue dengan caranya, yang menurut gue sangaaaat mudah dimengerti, waktu gue dan Gael asik sendiri belajar kimia, guru kimia gue Pak Einstein, sebenernya Pak Enang, karen dia mirip Einstein jadi anak-anak manggil dia begitu. Dia menyadari kesibukan kita berdua dan berkata dari depan kelas..

“Kamu, coba terangin apa yang barusan bapak tulis di papan tulis!”

gue refleks bilang “Saya Pak?”

“bukan kamu, tapi Abigael!” -suara tawa membahana dikelas-

“DIAM! Abigael silahkan maju!”

*gue berbisik ke Gael “Pak Einstein tau aja gue ga bisa”

Gael pun hanya tersenyum geli dan maju kedepan with full of confident.

Dia berada di depan dan mengajarkan semuanya dengan cara yang sama seperti mengajarkan ke gue, with a simple way. But we can get it.

Sejak saat itu Gael jadi amat terkenal di kelas terutama karena keahliannya di bidang kimia. Gue merasa separuh rahasia gue akan Gael terungkap, Gael guru kimia bersama, Gael milik bersama, NO!!!

Saat istirahat yang biasa gue pake berdua dengan Gael sekarang terganggu dengan belasan gadis remaja yang ngantri minta ajarin Gael, Privately!

Gue seperti didepak dari singgasana sebagai Ratu Gael.

Gue pun beranjak dari kursi, sebelum pergi gue sempet menengok kearah Gael yang ternyata dia melihat ke arah gue juga dan dengan tatapan menenangkan dan mata yang berkata “i’m still yours, correct, still your private teacher”

Gue pun duduk di halaman sekolah gue yang cukup luas didepan lapangan basket, menatap langit, awan, kesukaan gue buat ngusir penat. Sambil merasakan teriknya matahari siang, tiba-tiba ada suara langkah kaki dan dingin di pipi gue

“aduh, dingin tau!”

“hhha~ capeknya, perempuan perempuan itu lebih dodol dari lo”

“dodol? (apa di dodol-dodolin!)” -setengah bergumam-

“hmm, harusnya lo yang beliin gue minum, jadi gue sih”

“gue ga minta, lagian kenapa gue mesti beliin?”

“lah kan gue abis kecapean nih jadi guru kimia dadakan!”

“terus?? salah gue gitu?”

“iya!”

“kenapa?”

“ya, karena waktu itu pas kita ke gep sama pa Enangsteins, kan gue lagi ngajarin lo!”

“kalo gitu gausah ngajarin gue lagi, makasih!”

“lah, kok?”

“apa?”

“engga”

“…”

“…”

“kalo cemburu cewek tuh keliatan banget ya? haha”

“apa? siapa yang cemburu?dan cemburu sama siapa?”

“ck, iya gue gak akan ngajarin mereka lagi, oke?”

“Gael!!”

“Apa?”

“Thanks!”

“For?”

“not being their teacher anymore, and go on.”

“u’re welcome”

“masuk yuk, PR kimia gue kan belum selesai!”

“oh, itu sebabnya sampe kayak gini lo?”

“gak juga sih! hehe”

Sejak saat itu we are getting closer than anyone else. We are like bro-sis, best friend but it close to a couple. Still, till now, we don’t really know what we should called, best friend? or more …

We just end up like this, like We used to be from that time till now,

For almost 4 years, We are together, sometime We fight, We laugh, We cry, We talking’ with each other, making’ fool each other but We still together.

Sekarang, di umur kita yang ke 23 kita berdiri menghadap satu sama lain make one decision untuk melanjutkan hidup kita atau hidup gue dan dia.

“Gael, lo mau jadi apa kelak?”

“mungkin ahli kimia, lo bilang gue punya potensi kan?

“ilmuan gitu? kayak Banner?”

“ya engga lah, seenggaknya gue gak mau jadi hulk, haha”

“…”

“kalo lo? mau jadi Betty?”

“gak bisa lah!”

“kenapa?”

“bokap gue kan bukan army”

“Gee, serius lo mau jadi apa?”

“Penulis, penulis novel kayaknya seru. kita bisa tenggelam dalam dunia ciptaan kita sendiri!!”

“Hmm, gue ilmuan dan lo penulis, kita bakal sibuk dengan dunia masing-masing dong”

“gak dong, kan ada waktunya, yang harus kita atur waktu kan?”

“lo emang bisa maintain waktu? sering telat gitu!”

“itu beda ya!”

“sama!”

“…”

“…”

“always end up like this, ketika kita sampai pada satu titik pertemuan, tiba-tiba kita diem kan, bingung mau memutuskan, ga ada yang berani mempertemukan titik itu, Gael, why it can be so hard for make a decision. Kita selalu mengganti subject pembicaraan kalo itu udah menyangkut hal ini kenapa sih? kenapa?”

“Keh, now, I’m still confused about us. It’s not just like a chemistry quiz, it’s so hard for me to make a decision about us”

“me too, it’s not all your fault, it’s mine too, sorry for bothering you about this matter again”

“No, it’s not, someday we must face it, but not now.”

“okay, i’ll be waiting”

“me too”

Love is harder than anything else and everyone has their own love story and different with others, and this is mine, ours.

Gael&Keh



Note : Ini cerpen, ya kayaknya sih. Gue nulis ini kalo ga salah di kompasiana, yang dengan sedihnya gue lupa email dan password akun gue itu hiks banget, tahun 2012 kalo ga salah sih. Udah sih gitu aja, baru ini satu-satunya yang bisa gue ending-in. That's all. (malu asli! gue sok inggris banget di cerita ini, padahal grammarnya salah semua)


 Theme Song : Four Seasons by Namie Amuro
Share:

Tuesday, 8 April 2014

Iseng-iseng bikin sinopsis Part 2


Entah mengapa gue suka ngejudulin pake part-part-an kayak cinta fitri aja. Baiklah langsung saja saya mau nulis sinopsis yang saya pikirkan dikepala, nanti keburu lupa lagi, here we go!

Referensi Judul : Wedding Fair

Cowok : Pernikahan batal, punya mimpi kawin muda sama ceweknya yang udah dia pacarin dari sejak SMP (sahabeut masa kecil ceritanya)

Sejak pernikahan yang udah dia rencanakan dengan sematang-matangnya batal karena secara gak langsung cewek yang selama ini ia pacari menolaknya ketika menyatakan proposal pernikahannya, dia jadi sering pergi ke pameran-pameran pernikahan atau wedding fair, sendirian. Sampai suatu ketika, takdir mempertemukannya dengan seorang wanita, wanita yang tak ia sangka 'akan' memiliki peran berarti untuk hidupnya kelak

Quote : Aku udah ngerasa mengenal dia seumur hidupku, namun ia belum merasa mengenalku seumur hidupnya.

Cewek : Tidak punya waktu banyak untuk memikirkan tentang pernikahan, karena penyakit yang ia derita, jadi ia suka datang ke Wedding Fair.

Pernikahan? untuk memikirkan hal itu saja, rasanya jadwal kemotherapyku terlalu padat untuk hanya memikirkan hal itu. Namun, untuk wedding fair? setidaknya aku bisa kabur sejenak dari Rumah Sakit yang baunya sudah sama dengan baju yang kukenakan ini hanya untuk pergi menghadirinya. Umurku sekarang sudah 20 tahun, bonus 4 tahun sejak dokter memvonis keberadaanku di dunia hanya sampai di angka 16, 4 tahun lalu, Namun dengan bonus tersebut, mengharapkan pernikahan rasanya hal yang sangat muluk sekali bagiku, yang sehari-harinya makan-tidur dirumah sakit. Kalau aku menikah, mau makan apa suamiku? masa makanan hambar yang aku makan? jangankan untuk memikirkan pernikahan, memikirkan tentang hari esok apakah aku masih berada di dunia ini atau tidak rasanya 'berlebihan' untukku. Sampai suatu ketika, kata-kata seandainya, bayang-bayang pernikahan, hadir di benakku, ketika kami berfoto bersama, ya 'kami'. Aku dan lelaki pertama dan terakhir yang membuatku untuk pertama kali dan terakhir kalinya memikirkan tentang 'pernikahan'.

to be continued...
Theme Song : Somewhere Only We Know (Lily Allen version)
Share:

Thursday, 9 January 2014

Iseng-iseng bikin sinopsis

Hm, bukan sinopsis sih, lebih mirip ke kerangka karangan/ide cerita. Jadi, gue ceritanya suka tiba-tiba dapet ilham nulis gitu, ketika lagi bengong lah, lagi macet, sampai kadang-kadang gue bela-belain untuk berhenti sejenak menuangkan ide cerita dikepala gue, karena takut keburu lupa. yaah inilah sebagian kecil ide gue yang berhasil gue terjemahkan ke sebuah note di hp. Banyak ide cerita yang cuma ngambang gitu aja di otak, tanpa gue tuangkan kemana-mana dan cuma gue nikmatin aja ceritanya.

Sinopsis by hainetane

Cewek : Agen rahasia. 
Misi : Menjadi Seorang Istri
Cowok : bosan dengan hidupnya yang selalu diatur, ingin kabur dari rumah, tapi tidak tahu bagaimana
Suatu hari sang cewek yang kaget menerima misi tsb, sedang berjalan sendiri melewati sebuah kedai minum, ia melihat pemuda sedang mabuk, sendiri lalu dia menghampirinya dan langsung mengajaknya menikah!

Sang pemuda yang mabuk berat pun, pertama bingung dan bertanya apa? Lalu beberapa menit kemudian mengiyakan. Dengan syarat, si cewek harus membawanya pergi jauh dari sini. Lalu si cewek pun setuju.

Scene berganti disebuah apartemen mewah di kawasan elit yang merupakan apartemen si cewek, si cewek pun membawa si cowok ke sebuah kamar dan membiarkan cowok tsb tidur dengan  keadaan tak sadarkan diri. Lalu ketika pagi datang si cowok yang telah bangun dan setengah sadar dari keadaan mabuknya semalam belum menyadari keadaan sekitar yang berbeda jauh dengan rumah yang ia tinggali bersama orang tuanya, lalu ia mencium bau masakan yang sangat harum dari dapur, ia pun berkata, Omma?
Lalu ia menghampiri bau tersebut dan alangkah kagetnya ia melihat si cewek sedang mencoba memasak sesuatu, sesuatu seperti, bubur hitam? Ah tidak penting pikirnya, yang ada dikepala si cowok yaitu satu, pusing yang sangat hebat efek mabuk semalam dan kedua adalah pertanyaan siapakah cewek itu? *belum sadar akan dimana tepatnya rumah siapakah ia berada sekarang
Lalu ia bertanya, nugu seyo? Siapa ya?
Si cewek menjawab. Aku? Istrimu. Apa kau lupa?

Si cowok pun kaget, EH?
Lalu scene berpindah ke meja makan dimana si cowok terlihat sedang mengintrogasi si cewek setelah *terlihat sudah cukup menyadari keadaan.

Lalu si cewek menunjukkan sebuah kertas yang adalah kontrak yang terlihat sudah ditanda tangani oleh kedua belah pihak dan merupakan 2 salinan kertas yang sama. Ia pun mulai menceritakan kejadian semalam dari awal pertemuan namun menyisihkan bagian tentang misi rahasianya, lalu flashback tentang bagaimana si cowok mabuk itu bernegosiasi dengan cewek dan apa saja isi kontraknya, yang point besarnya adalah si cowok bersedia jadi suami sampai waktu TBA dengan syarat si cewek akan membawa cowok itu pergi jauh dari sini, dan segala perjanjian lain yang lebih dibuat sepihak oleh si cewek karena nampaknya si cowok hanya menyisakan sedikit kesadarannya akibat mabuk dan mereka berdua setuju akan kontrak tsb lalu menandatanganinya. Kembali lagi ke scene meja makan si cowok pun takjub dan terdiam dan si cewek hanya senyum terpaksa sambil menyodorkan pada si cowok salinan kontrak pernikahan yang ‘mereka’ susun kemarin. Si cowok pun hanya berfikir sejenak lalu dengan pasrah berkata, yasudahlah. Dan inilah awal kisah aneh sepasang suami istri yang baru ‘kenal’ beberapa jam saja

The end

Note : Begitulah saya, selalu tak tau ending-ending dari cerita-cerita yang saya buat sendiri :'(
Share: