Showing posts with label wedding fair. Show all posts
Showing posts with label wedding fair. Show all posts

Wednesday, 19 April 2017

Wedding Fair ~ Secret Story

Grey Aria Lestari, Nibiru Kalangitan, Rakadya Wilona, tiga cinta, satu pernikahan dan sebuah rahasia.

Tanpa disangka dan di duga, Biru dan Grey akhirnya memenangkan kontes foto pernikahan tersebut. Hadiahnya? Ternyata tak tanggung-tanggung! Mereka dapat paket honeymoon ke Karimun Jawa!

Share:

Tuesday, 8 December 2015

Wedding Fair (last chapter)

Grey
Grey Aria Lestari. Perpaduan wanita Jawa dan Manado-Inggris. Itu sebabnya ketika diriku lahir, kedua orang tuaku memberiku nama Grey, abu-abu. Ibuku Jawa tulen dengan kulit kecoklatan dan tipikal wanita Jawa yang anggun karena masih keturunan bangsawan keraton Solo katanya.
Ayahku kebalikannya, Tinggi berkulit putih dan memiliki postur tubuh orang luar negeri dan sedikit kaku tipikal orang Manado walaupun darah blasteran Inggrisnya hanya ia ambil sedikit dari kakekku.
Dengan latar belakang keluarga yang unik tersebut lahirlah aku, si abu-abu. Ya, ketika aku lahir ke dunia, kata mereka, kedua orang tuaku, diriku seperti berkulit abu-abu. Atau kalo istilahnya sebenarnya eksotis. Jadi mereka menamakanku Grey. Terlepas dari hidupku sekarang yang memang abu-abu. Itulah alasan orang tuaku menamakanku demikian. Namun, seiring waktu berjalan, penyakitku dan segala macam, kulit abu-abu eksotisku berubah menjadi pucat hari demi hari.
Note: Pengen banget bisa nyelesain ini cerita, cuma gue udah gatau lagi mau gimana. Endingnya cuma ada di pikiran gue doang, gak bisa gue keluarin. Biarlah, biar menjadi bagian dari cerita-cerita lain yang gue ciptakan di otak gue. Dibuang sayang jadi di publish ada apanya aja.
Share:

Monday, 19 May 2014

Wedding Fair

Lona

Rakadya Wilona. Aku tak mengerti dengan laki-laki. Mereka makhluk yang sulit. Seperti suamiku ini. Dulu setengah mati ia mengejar cintaku. Bahkan mengajakku untuk kawin muda.
Namun sekarang setelah kami menikah. Entah mengapa rasanya ada sesuatu yang hilang darinya. Sesuatu seperti apa ya, gairah hidup? Semangat? Mungkin ia bisa menutupinya dari semua orang. Semua orang yang menghadiri pernikahan kami yang terencana dan terorganisir dengan baik. Semua kerabat bahkan keluarga kami. Tapi bagiku, yang sudah tau dengan sifat dan wataknya. Aku merasa ia hanya sedang menjalankan tugas saja. Tugas menjadi suami. Bukan dari hati. Seperti memang kewajiban saja. Bukan panggilan hati.
Ia dulu bilang sudah mengenalku seumur hidupnya. Tapi apa? Bahkan kemarin ia hampir lupa ulang tahun pernikahan kami kalau bukan berbarengan dengan hari valentine. Ya, kami menikah sudah hampir 5 tahun yang lalu tepatnya di hari valentine. Itu juga pilihannya. Hampir semua ia yang mengatur. Katanya aku cuma cukup jadi cantik saja. Gombal.
Namun, sebenarnya aku agak ragu padanya. Jujur, walaupun kami kenal sejak kecil. Aku terkadang seperti tidak mengenalnya. Ia seperti jauh dari jangkauanku. Ia pemimpi dan perencana yang baik. Namun entah mengapa, aku masih meragukannya. Ya, selama ini aku masih juga meragukannya. Malah dari dulu. Ia sempat sampai beberapa kali menyatakan cintanya kepadaku namun tidak pernah kuterima sampai akhirnya aku menyerah dan menerimanya. Ketika aku yakin, walau sedikit ragu masih menyelimuti hatiku kepadanya.
Keraguanku bukannya tanpa alasan. Alasan klasik sih sebetulnya dan hanya ketakutanku semata. Yaitu, aku takut ia bosan. Ia bosan terhadapku. Suatu saat nanti. Bagaimana tidak. Kami sudah bersama bahkan dari kami masih ngompol di celana. Ia, setauku tak pernah dekat dengan cewek lain bahkan dengan orang lain setauku. Hanya sebatasnya saja. Ia selalu menempel padaku. Semasa kecil hingga remaja. Itulah, itu hal yang paling aku takutkan. Ia bosan. Makanya, ketika ia melamarku. Rasa takutku makin menjadi. Aku takut pernikahan kami cuma seumur jagung. Aku takut ia bosan. Ia lelah bersamaku. Itulah mengapa. Aku biarkan ia berpikir.

Share:

Saturday, 17 May 2014

Lanjutan Kemarin (Wedding Fair)

Loh, makin aneh-aneh aja nih judul postingan gue. Abis kalo gue tulis "Iseng-iseng bikin sinopsis Part 2 Bag. 2" kepanjangan. Jadi ya singkatnya ini saja, kalo mau liat postingan saya yang kemarin silahkan monggo klik disini.

Lanjutannya..

Setting : disebuah hotel di kawasan Jakarta bernama hotel X (nama hotel tba)

Grey. (setelah melalui perundingan yang sulit dan melilit akhirnya saya putuskan ini nama tokoh wanitanya)

Grey, abu-abu, kelabu, kelam, warna yang tak jelas. Seperti diriku,. sejak dulu, aku bukan orang yang optimis. Aku hanya mengikuti arus, aku hanya seperti air yang mengalir dari hulu ke hilir. Aku tak pernah mempunyai visi ke depan, mimpi, cita-cita, bahkan resolusi. Karena semua itu menurutku adalah hal yang sangat berlebihan untukku, ya, berlebihan.
Aku tak boleh berharap lebih, meminta lebih, karena harapan, impian, dan resolusi tersebut toh akan dipatahkan juga, makanya, aku tak pernah mau berharap akan apapun yang ada diluar jangkauanku.
Bukannya menyerah, tapi aku hanya capek. Capek dengan semua angan-angan itu. Capek tinggal disebuah ruang putih dengan bau obat diseluruh jangkauan indra penciumanmu. Capek dengan ketidakjelasan masa depanku. Aku abu-abu.

Biru.

Aku lelaki yang kata orang kuno. YA, sebenernya yang bilang itu adalah mantanku. Mantan calon istriku. WHAT? istri? ya. Diumurku yang 20 tahun ini cita-citaku adalah menikah. Ya, aku merasa hal itu hal yang paling benar yang bisa aku lakukan. Walaupun usiaku, usia kami masih muda. Aku yakin kami bisa menjalaninya, itu pikirku.
Sampai ia, orang yang kucintai seumur hidupku. Orang yang sudah mengisi sebagian besar hariku. Orang yang padanya akan kusematkan cincin di jari manis kecilnya. Orang yang sudah kukenal seumur hidupku menyatakan ia belum cukup mengenalku seumur hidupnya.

Share:

Tuesday, 8 April 2014

Iseng-iseng bikin sinopsis Part 2


Entah mengapa gue suka ngejudulin pake part-part-an kayak cinta fitri aja. Baiklah langsung saja saya mau nulis sinopsis yang saya pikirkan dikepala, nanti keburu lupa lagi, here we go!

Referensi Judul : Wedding Fair

Cowok : Pernikahan batal, punya mimpi kawin muda sama ceweknya yang udah dia pacarin dari sejak SMP (sahabeut masa kecil ceritanya)

Sejak pernikahan yang udah dia rencanakan dengan sematang-matangnya batal karena secara gak langsung cewek yang selama ini ia pacari menolaknya ketika menyatakan proposal pernikahannya, dia jadi sering pergi ke pameran-pameran pernikahan atau wedding fair, sendirian. Sampai suatu ketika, takdir mempertemukannya dengan seorang wanita, wanita yang tak ia sangka 'akan' memiliki peran berarti untuk hidupnya kelak

Quote : Aku udah ngerasa mengenal dia seumur hidupku, namun ia belum merasa mengenalku seumur hidupnya.

Cewek : Tidak punya waktu banyak untuk memikirkan tentang pernikahan, karena penyakit yang ia derita, jadi ia suka datang ke Wedding Fair.

Pernikahan? untuk memikirkan hal itu saja, rasanya jadwal kemotherapyku terlalu padat untuk hanya memikirkan hal itu. Namun, untuk wedding fair? setidaknya aku bisa kabur sejenak dari Rumah Sakit yang baunya sudah sama dengan baju yang kukenakan ini hanya untuk pergi menghadirinya. Umurku sekarang sudah 20 tahun, bonus 4 tahun sejak dokter memvonis keberadaanku di dunia hanya sampai di angka 16, 4 tahun lalu, Namun dengan bonus tersebut, mengharapkan pernikahan rasanya hal yang sangat muluk sekali bagiku, yang sehari-harinya makan-tidur dirumah sakit. Kalau aku menikah, mau makan apa suamiku? masa makanan hambar yang aku makan? jangankan untuk memikirkan pernikahan, memikirkan tentang hari esok apakah aku masih berada di dunia ini atau tidak rasanya 'berlebihan' untukku. Sampai suatu ketika, kata-kata seandainya, bayang-bayang pernikahan, hadir di benakku, ketika kami berfoto bersama, ya 'kami'. Aku dan lelaki pertama dan terakhir yang membuatku untuk pertama kali dan terakhir kalinya memikirkan tentang 'pernikahan'.

to be continued...
Theme Song : Somewhere Only We Know (Lily Allen version)
Share: