Showing posts with label Goblin. Show all posts
Showing posts with label Goblin. Show all posts

Friday, 3 February 2017

A Sad Love


Kim Shin: "There is no sadness that lasts for eternity. There is no love that lasts for eternity either."



Eun Tak: "I'm going to vote that there is."



Kim Shin: "Which one are you voting for? Love or Sadness?"



Eun Tak: "A sad love."



GOBLIN, kata yang udah jadi viral semenjak kemunculan dramanya di akhir tahun 2016 lalu. Gue dan mungkin orang lain pasti tadinya gak nyangka kalau drama Goblin bisa jadi se-viral ini sampai-sampai popularitasnya mengalahkan DoTS!!! untuk sebuah TV kabel TvN kayaknya lagi dilanda keberuntungan tahun 2016 dan awal tahun 2017 ini karena rating drama yang sudah mendunia ini yang katanya "tinggi" dan mengalahkan rating "Reply 1988" dan juga DoTS, namun kalau mau dibanding-bandingin, kayaknya gak etis karena jelas genre mereka berbeda. Secara Goblin itu fantasi drama dan DoTS lebih ke realita ya.

Gue baru bisa buat review sekarang karena gue masih gagal move on dari drama satu ini, gue lagi tahap puasa drama dulu. Gue itu tipe orang yang agak susah move on dari drama yang menurut gue bagus, dan Goblin adalah salah satu drama yang dapat membuat gue stuck in love dengan drama, aktornya, OSTnya dan semua yang ada didalamnya. Gue merasa tersihir ke dunia Euntak dan gue gak bisa get rid of bayang-bayang Kim Shin dari kepala gue. OSTnya setiap hari gue puter, setiap saat malah. Gue beli barang-barang yang berhubungan dengan Goblin, salah satunya ransel Jansport yang dipakai Euntak pertama kali, muffler warna merah (nitip sama temen yang kebetulan kemarin ke Korea hehehe) dan hal apapun yang bisa menghidupkan Goblin di dunia gue. Beginilah gue, gue terlalu addict sama sesuatu berbau fiksi. Gue udah berkali-kali dibilangin sama temen gue kalo hidup gue tuh udah terbalik antara fiksi sama realita, cuma ya gue tetep gini-gini aja. Fiksi bagi gue adalah sebuah pengalihan, pengalihan dari sesuatu yang bisa aja gue lakukan tapi gue gak mau melakukan itu. Kalau gak ada fiksi, gue gak tau mau melakukan apa. Gue tau gue gak bisa kayak gini terus. Cuma, gue belum nemu cara lain yang bisa gantiin fiksi di hidup gue, setidaknya untuk saat ini.

Well, balik lagi ke judul. A sad love. Yes, I agree, Goblin is kinda sad. I mean, there is no way to change the fate between Goblin and his bride and It's so obvious that makes it more beautiful to let it just like that. A sad love is sadly saaaad. But, sometimes, happiness is not always about happy ending or happily ever after. Happiness is all moments together being one thing called love.

Gue suka cara writer mempertahankan itu dari akhir, dan gak maksa salah satu entah itu Goblin atau Euntak untuk jadi bukan diri mereka, I mean, human stays human and Goblin stays Goblin, tapi mereka saling mencari satu sama lain. Goblin immortal sedangkan Euntak mortal, jadi Euntak masih punya 3 kehidupan lagi bersama Goblinnya. Cuma kita memang gak akan tau Ending sebenarnya, namun kita tau, mereka ada dan pasti akan selalu saling mencari satu sama lain, lalu saling menemukan. Itulah mengapa cinta diantara mereka amatlah berharga, karena waktu berperan didalamnya. Momen-monen yang dibatasi waktu itulah yang sangat berharga, karena tak akan terulang kembali, melainkan hanya bertambah menjadi kenangan.

Berikut komentar netizen sepertinya yang menjadi inspirasi gue buat nulis review tentang Goblin ini:

[gallery ids="2035,2036" type="rectangular"]

 

Gue bener-bener nangis pas adegan ini, walau mereka gak melakukan apa-apa, gue bisa merasakan emosi dalam ekspresi Euntak, gue gak tau gimana caranya dia bisa sampai kesini, gue rasa takdir mereka memang gak bisa berubah, cuma kemauan besar dari Euntak pasti akan membawanya kembali ke pelukan Goblinnya. Sesuai banget sama judul drama ini yaitu Goblin aka "Guardian: The Lonely and Great God", Goblin akan selalu menjadi lonely god yang menantikan bridenya.
Share:

Sunday, 1 January 2017

NYE for me

Well, seiring berjalannya waktu, ketika lo merasa bahwa cuma waktu aja yang berjalan sedangkan lo tetap berdiri di tempat yang sama, tak berubah sedikitpun kecuali bertambah tua, mau pergantian hari, minggu, bulan maupun tahun rasanya bukan sebuah hal yang lagi special buat lo. Melainkan sama halnya seperti saat lo menarik napas. Lo sudah terbiasa yang bahkan gak sadar setiap kali lo menarik napas. Begitulah yang gue rasain kurang lebih sejak gak tau kapan, yang jelas semua berubah. Gue cuma bisa melihat warna hitam, putih, dan juga abu-abu sekarang ini. Padahal dunia penuh dengan warna-warni yang bahkan lo gak tau nama semua warna di dunia ini, sampai novel yang lo baca memberi tahu lo ada warna "English Lavender", you never know before and maybe you will never know at all.

Hidup ini bagi gue sekarang semudah menarik nafas dan mengeluarkannya, gue merasa "tau-tau udah Senin", "tau-tau udah malem", "tau-tau gue udah semester 5" ,"tau-tau gue udah nikah(mungkin". Well, gue gak terlalu pay attention sama hal-hal di hidup gue kecuali 3 hal, Waktu gue bangun, waktu yang gue habiskan sama orang disekitar gue dan walktu gue kembali untuk tidur. Tiga hal reguler yang selalu dan setiap hari gue lakukan. Ketika gue bangun, dan itu kesiangan, gue realize banyak waktu yang akan kebuang sia-sia, kemungkinan buat telat, macet dan lain sebagainya akan mengikuti dibelakangnya. Saat gue dirumah, sebisa mungkin gue pengen banget berasa kalo gue ada dirumah, komunikasi sama mamah, sama semua orang rumah, tapi tetep aja gue pasti lebih banyak menghabiskan waktu buat diri gue sendiri and I know how selfish I am. Gue kadang ignore orang rumah kalo lagi dirumah, gue itu ya begitu.

Gue pernah nyesel senyesel-nyeselnya dulu, gue inget gue sering ignore bokap gue kalo ngelongok gue dari pintu kamar gue, dan sekarang gue cuma bisa nyesel. Gue gak mau hal ini kejadian lagi, cuma gue tetep dititik yang sama sampai sekarang, selfish. Gue terlalu menikmati hidup dan kehidupan gue sendiri sampai-sampai gue gak engeh dengan orang-orang sekitar gue yang merupakan "kehidupan" gue sesungguhnya. Gue gak ngerti cara jalanin hidup menjadi "manusia yang pada umumnya" and in the end, I just found out myself back on my own gadget or laptop in my bedroom. No talking, just sat in front of it until I have to go back to sleep again.

Gue sebenernya pengen banget punya kegiatan diluar kamar gue, sama nyokap gue ngobrol, sama kakak-kakak gue dan keponakan-keponakan gue. Cuma, gue running out the time I guess. Gue bangun udah siang, nyokap udah selesai berkebun, keponakan gue yang gede udah berangkat sekolah dan yang kecil kadang ada kadang pergi sama ibunya dan kadang main ke tetangga, dan lagi gue telat, gue kehabisan waktu. Gue lalu cuma bisa menyesali kenapa gue buang pagi gue sia-sia dan gue cuma bisa menyesal, tiap harinya. Waktu gue sama nyokap yang benar-benar full adalah pas gue beranjak tidur, dan itupun kepotong juga karena biasanya nyokap udah tidur duluan dan gue? masih berkutat sama laptop gue dan akhirnya pagi yang sama pun terulang kembali, setiap harinya.

Kapan ya, gue bisa merubah kebiasaan ini, kapan dan gimana caranya? gue padahl lebih banyak ngabisin waktu diluar rumah dan ketika dirumah, gue layaknya orang yang ngekost, cuma numpang tidur doang. Gue berkali-kali bilang sama diri gue sendiri, gue harus berubah sebelum terlambat, terlambat? gue udah terlambat. But, gue at least try to do something recently. Trying to understand my mom with gardening, yeah, It kinda works for me. At least for now, when I am in holiday, NYE holiday to be exact. I bought some seeds online and well, It works, for now, and I hope it will work for sure. Gue gak berharap banyak, gue pengen punya hal yang bisa gue share bareng mamah, gue pengen bisa memulai pembicaraan sama mamah, nanya ini itu sama mamah, dan lain sebagainya sama mamah. I hope it will work, this kind of things, I will do my best. Gue pengen kebun mamah bukan cuma dihiasi pepohonan mamah dan bapak tapi gue ada pohon gue disana.

Edisi curhatnya ini bakal gue tutup sama lagu kesukaan gue saat ini, arti liriknya aja ya, karena lagu ini bagus banget dan merupakan ost dari Goblin.

Here they are:

Share: